No Result
View All Result
  • Login
www.masturah.com
  • Home
  • Tokoh
  • Pilar
  • Keluarga
  • Home
  • Tokoh
  • Pilar
  • Keluarga
No Result
View All Result
www.masturah.com
No Result
View All Result
Home Filosofi Muslimah

Nyai Masriyah Amva, Ulama Perempuan Inspiratif dari Cirebon

by Admin Masturah
8 April 2021
0
Nyai Masriyah Amva, Ulama Perempuan Inspiratif dari Cirebon
332
SHARES
2.6k
VIEWS

masturah.com, Ulama Perempuan Inspiratif, Nyai Masriyah Ava berbagi kisah perjalanannya menjadi seorang pemimpin pesantren Kebon Jambu Al-Islami berbagai tantangan ia hadapi termasuk keraguan orang hanya karena ia perempuan.

Masriyah Amva, biasa dipanggil Nyai Masriyah, adalah pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy di Cirebon, Jawa Barat. Beliau dikenal ramah serta sangat dikagumi oleh para santrinya, karena melakukan banyak terobosan. Ia adalah ulama perempuan inspiratif, namun tentu saja ia menghadapi banyak tantangan.

Dibesarkan di lingkungan pesantren, ayah dan kakek Nyai Masriyah adalah para ulama terpandang di Cirebon. Orang tuanya cukup progresif, sang ayah Amrin Khanan menginginkan semua anaknya menjadi ulama. Nyai Masriyah kemudian menimba ilmu di Pesantren Al-Muayyad Solo dan Pesantren Al-Badi’iyyah Pati di Jawa Tengah, serta Pesantren Dar Al-Lughah wa Da’wah di Bangil, Jawa Timur.

“Bapak ibu saya ini orang yang cerdas. Walaupun belum ada istilah ulama perempuan, dan meski anak-anaknya perempuan semua, mereka berdoa dengan keras anak-anaknya bisa menjadi ulama,” ujar Nyai Masriyah Amva, dalam wawancara dengan podcast How Women Lead.

Namun, tantangan pertama datang dari para kerabat yang mendorong orang tuanya untuk menikahkan Masriyah. Ini memang merupakan salah satu tantangan perempuan dalam berkarier. Masriyah akhirnya dinikahkan dengan seorang kiai pengasuh Pesantren Kebon Melati. 

“Kata pakde saya, sayang kalau dilewatkan mumpung ada laki-laki yang berilmu tinggi menginginkan saya. Pakde memaksa saya kawin. Di situlah orang tua saya merasa gagal mewujudkan cita-citanya untuk menjadikan saya ulama perempuan,” ujar Nyai Masriyah.

Setelah menikah, Nyai Masriyah bersama dengan sang suami, Kiai Haji Muhammad, mendirikan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy. Namun, pada 2007, suaminya meninggal dunia, meninggalkan Nyai Masriyah dalam keadaan limbung.

Kepemimpinan Membumi Ulama Perempuan Masriyah Amva

Dalam suasana berduka yang besar, Masriyah harus dihadapkan pada tanggung jawab keberlangsungan pesantren. Namun, saat itu banyak yang tidak mempercayai perempuan berkompeten menjadi pemimpin, sehingga banyak santri yang memilih untuk keluar. 

“Waktu itu saya kaget sekali saat santri-santri meninggalkan saya. Tapi saya terpaksa tampil walaupun saya tidak memiliki modal sosial, tidak dipercaya oleh masyarakat. Saya katakan kepada mereka, saya sudah menemukan pendamping saya, yaitu Allah SWT,” kata Nyai Masriyah.

Di awal kepemimpinannya, ia banyak sekali mendapat cemoohan dari masyarakat, bahkan ulama-ulama besar. Nyai Masriyah kerap kali dihadapkan pada laki-laki yang melakukan mansplainingpadanya, padahal saat itu ia sudah menjadi seorang pemimpin dan juga tidak kalah berilmu.

“Banyak sekali laki-laki yang menafikan kerja saya. Pernah ada yang datang ke rumah, ketika ada sebuah kegiatan semacam reuni. Enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba dia ngomong di depan saya, ‘Kamu tahu enggak kalau kamu itu nol besar. Kamu bukan siapa-siapa. Pesantren ini bisa berdiri dan berkembang karena anak-anak (santri laki-laki) dan berkat alumni yang solid’,” Masriyah mengatakan.

“Saya iya-iya saja,” ia menambahkan. 

Masriyah tidak menyangkal bahwa ada saat-saat dia merasa tidak percaya diri menjadi seorang pemimpin akibat hal-hal tersebut. Namun, ia tetap berteguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT agar selalu diberikan kekuatan.

Pemimpin Inspiratif Nyai Masriyah Amva Memimpin Pesantren Kebon Jambu di Kala Pandemi 

Sudah 13 tahun Nyai Masriyah Amva memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon. Selain tantangan dari masyarakat, selama setahun ini ia juga menghadapi tantangan besar karena pandemi COVID-19. Pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara tatap muka tidak bisa lagi dilakukan.

Pada empat bulan pertama pandemi, Nyai Masriyah Amva memutuskan untuk memberhentikan sementara semua aktivitas pesantren. Dengan sekuat tenaga dan penuh empati, Nyai Masriyah berusaha keras agar orang-orang yang bekerja di pesantren tetap bisa hidup. 

“Alhamdulillah, kami masih bisa memberi makan pekerja kami, dan bisa bertahan,” ujar Nyai Masriyah Amva dalam perbincangannya bersama dengan podcast How Women Lead. 

Nyai Masriyah tidak hanya bergulat menghidupi para pekerjanya. Warga di sekitar pesantren yang terkena dampak pandemi pun ia bantu dengan sepenuh hati. Ia membantu mereka dengan mempromosikan barang-barang yang dijual warga di grup-grup WhatsApp. 

“Ada yang jualan kerupuk , ikan asin, macem-macem lah. Jadi sampai sekarang situasi sudah normal perdagangan masih jalan. Kalau petani jamur, kita jualkan jamurnya, jagung, semua kita jalani,” ujarnya.

Setelah libur sekian lama, para santri kemudian datang bertahap untuk kembali mondok. 

“Minta surat kesehatan biasa. Kalau rapid e mahal ya, duitnya mereka enggak ada. Suhunya kemudian kita periksa, sampai sekarang sudah pada kembali semua,” ujarnya.

Masriyah Ulama Perempuan yang Ingin Jadi Perempuan Mandiri

Sebagai seorang ulama perempuan yang berteguh pada interpretasi ajaran Islam yang berkesetaraan gender, Nyai Masriyah bukanlah sosok yang suka memaparkan banyak teori. Ia lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-hari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru.

Masriyah selalu mendorong para santri perempuannya untuk selalu percaya diri dan tidak minder ketika berkompetisi dengan laki-laki. Hal ini juga merupakan salah satu contoh bagaimana mendidik anak perempuan menjadi pemimpin.

“Saya sering mengarahkan mereka bahwa perempuan dan laki-laki itu memiliki kesadaran dan kesempatan yang sama, kalau sandaran kita sama. Kalau perempuan bersandarnya kepada Tuhan, laki-laki juga begitu. Maka kekuatannya sama,” kata Masriyah

Selama 13 tahun, ulama perempuan Masriyah Amva bekerja sebagai pemimpin pondok pesantren. Ketika ada hal-hal yang membuatnya gundah, Masriyah menemukan ketenangan dalam bentuk menulis puisi. 

Hingga saat ini tercatat cukup banyak buku puisi karya Nyai Masriyah, termasuk Ketika Aku Gila Cinta, Cara Mudah Menggapai Impian, dan Matematika Allah.

sumber : Women Lead

Previous Post

Nafisah binti Al Hasan, Ulama Perempuan Tersohor Cicit Rasulullah

Next Post

Suara Lantang Singa Minangkabau Rasuna Said dari Atas Podium

Admin Masturah

Admin Masturah

Next Post
Suara Lantang Singa Minangkabau Rasuna Said dari Atas Podium

Suara Lantang Singa Minangkabau Rasuna Said dari Atas Podium

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Login
Notify of
guest

guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
No Result
View All Result

Recent.

sidang isbat 3

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1446 H Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025

29 Maret 2025
Penutupan Posko Pusat Angkutan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025

Menhub Apresiasi Seluruh Pihak yang Sukseskan Mudik Libur Nataru

9 Januari 2025
Kakorlantas Polri Bersama Wamen BUMN Apresiasi Kelancaran Arus Libur Nataru

Kakorlantas Polri Bersama Wamen BUMN Apresiasi Kelancaran Arus Libur Nataru

29 Desember 2024

Kategori Pilihan

  • Anjuran Muslimah (45)
  • DivHumas (55)
  • Filosofi Muslimah (42)
  • Jaga Damai (1)
  • Jaga Negeri (3)
  • NEWS (168)
  • Para Ahli (96)
  • Pendapat Muslimah (10)
  • Pilar (527)
  • Tak Berkategori (46)
  • Tokoh Muslimah (76)
  • Travel (15)
  • Trending No.1 Media Sosial (3)
  • Trending No.1 Media Sosial (1)
© Copyright Masturah Team All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Tokoh
  • Pilar
  • Keluarga

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
wpDiscuz